The first global website supporting the teaching and learning of climate change in different languages using recognized scientific research.

Kisahku

SMA St. Laurensia, Serpong


Sekolah yang berada di kawasan perumahan Alam Sutera, Serpong, berupaya untuk mengatasi masalah sampah dengan mendaur ulang sampah organik menjadi kompos. Dengan begitu sampah sayuran dan buah-buahan dapat digunakan kembali untuk menyuburkan tanaman. 

Sampah organik sendiri dikenal sebagai penghasil gas metana yang merupakan salah satu gas rumah kaca.

Salah satu hal yang dibutuhkan untuk membuat kompos adalah bakteri pengurai atau EM4. Namun biasanya orang tidak mau repot untuk membeli EM4. Oleh karena itu, tim sekolah ingin mengenalkan penggunaan MOL, mikroorganisme lokal yang dapat dibuat sendiri, pada pembuatan kompos. 

MOL sendiri dibuat dari gula dan air yang dicampurkan dengan (pilih salah satu): a. nasi basi; b. tapai atau; c. sampah kebun. Setelah 5-7 hari, maka akan dihasilkan MOL nasi basi, atau tapai atau sampah. 

Dengan menggunakan MOL, tim sekolah ini melakukan uji coba untuk mengukur efektivitas penggunaan MOL pada tanaman Sanseviera superba (lidah mertua) dan Piper crocatum (sirih merah). 

Pembuatan kompos dengan menggunakan MOL dapat diaplikasikan dengan mudah oleh siapa saja. Hal ini tidak hanya dapat mengurangi jumlah sampah organik di sekolah atau rumah, tapi juga dapat membantu menghijaukan pekarangan di sekitar kita. 

Ini merupakan sebuah upaya pengurangan emisi GRK dengan dampak ganda. Tidak hanya emisi GRK yang dihasilkan dari sampah yang berkurang, namun upaya penghijauan yang di lakukan juga dapat menyerap emisi GRK yang berada di sekitar kita.

 


Downloads and links: